Masuk

Ingat Saya

Menciptakan Toleransi Menuju Harmoni dalam Kehidupan Beragama

Lahirnya toleransi dan kedamaian berawal dari faktor individu yang mempengaruhinya. Individu ini dipengaruhi oleh sikap spiritual keagamaan yang menekankan pada penerimaan diri akan kehadiran dan keberadaan orang lain. Dasar filsafatnya ialah bahwa manusia diciptakan dalam perbedaan dan makhluk sosial. Manusia terlahir sebagai makhluk yang memiliki keunikan dengan segala perbedaan yang ada. Setiap anak yang dilahirkan dalam satu keluarga pasti memiliki perbedaan tersendiri, walaupun ia berasal dari dua orang yang sama –ayah dan ibu – namun kelak ketika tumbuh anak akan memiliki karakteristik yang berbeda, entah dengan ayah dan ibunya ataupun saudara-saudaranya. Lebih luas lagi, ketika keluar dari faktor persamaan keluarga, akan didapati perbedaan-perbedaan yang nampak mencolok. Tidak akan pernah ada seorangpun yang mampu menyeragamkan manusia di dunia ini, dalam hal apapun. Perbedaan adalah rahmat yang diturunkan Tuhan, yang akan mewarnai kehidupan dunia agar menjadi menarik. Apa jadinya ketika Tuhan hanya menciptakan manusia ini seragam, sama semua, hitam semua, putih semua, Tuhan menciptakan satu warna. Tak ayal nilai estetika dari sebuah perbedaanpun tidak akan muncul, warna pelangi tak seindah yang kita lihat, kehidupan dunia begitu monoton.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran”, yang berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendiriannya. Dalam bahasa latin toleransi berasal dari kata tolerntia, yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran.  Toleransi merupakan sikap memberikan kebebasan kepada sesama manusia atau masyarakat untuk menjalankan keyakinan atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya sendiri, selama dalam menjalankan keyakinan, menjalankan kehidupannya tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan prasyarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat.(Umar Hasyim: 1979, 22). Sedangkan menurut W.J. S Poerwdarminto toleransi adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta memperbolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri.(Poerwadarminta: 1991. 280). Dari sini dapat dipahami bahwa toleransi merupakan sikap untuk memberikan hak sepenuhnya kepada orang lain agar menyampaikan pendapatnya sekalipun pendapatnya salah ataupun berbeda. Dan juga toleransi merupakan suatu sikap atau tingkah laku dari seseorang untuk menghargai, membolehkan, bahkan melonggarkan sebuah kebebasan kepada orang lain dan memberikan dukungan atas perbedaan sebagai pengakuan atas hak manusia.

Toleransi meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik dari sisi ras manusia, keagamaan, kepercayaan, kebudayaan, pekerjaan dan lain sebagainya. Bangsa Indonesia yang memiliki berbagai macam perbedaan, suku, budaya, ras, agama, dan bahasa, sangat penting bagi masyarakatnya untuk memiliki dan mempatrikan sifat dan sikap toleransi ini. Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan final bangsa kita dalam memahami kekayaan perbadaan yang melatarbelakangi berdirinya Negara. Bahwa perbedaan yang dimiliki bangsa ini adalah sebagai kekuatan pemersatu dalam meraih tujuan bersama, bukan sebagai pemecah belah kerukunan. Tidak boleh bagi setiap manusia di Indonesia mengklaim dirinya sebagai bagian dari golongan yang unggul dan berkuasa di dalam Negara yang syarat akan perbedaan. Antara suku satu dengan suku lainnya, antara agama satu dan agama lainnya harus saling menghargai, menghormati keyakinan, pendapat masing-masing sebagai dukungan dan pengakuan atas eksistensinya.

Latar belakang bangsa kita yang berbeda-beda disisi lain memang sangat rentan terhadap adanya konflik, konflik antar suku, antar ras, hingga konflik antar agama. Menjadi hal yang lumrah jika masing-masing suku, ras, agama memiliki keyakinan, kepercayaan, pandangan-pandangan yang berbeda satu sama lain. Gesekan perbedaan keyakinan, kepercayaan, pandangan ini menjadi tantangan tersendiri dalam membina hubungan kerukunan. Perbedaan-perbedaan ini merupakan hal sensitif yang bisa menyebabkan kesenjangan bahkan konflik pada masyarakat kita yang majemuk. Dalam hal toleransi antar umat beragama misalnya yang hingga saat ini sangat dijaga kerukunannya, toleransi antar umat beragama harus dimulai atau berpangkal dari penghayatan nilai ajaran agama masing-masing. Toleransi harus menjadi bagian terpenting dalam lingkup intra-agama dan antar agama. Karena toleransi adalah upaya dalam memahami agama-agama lain yang memiliki kesamaan ajaran tentang toleransi, cinta kasih dan kedamaian. Oleh karena itu, toleransi mutlak harus dilakukan oleh siapapun pemeluk agama, dari agama manapun, yang mengaku sebagai pribadi beriman, berakal dan memiliki hati nurani. Paradigma toleransi harus di bumikan dengan melibatkan semua pihak, khususnya pemerintah, tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Tidak akan ada lagi pengakuan tentang siapa yang paling benar, siapa yang paling hebat, siapa yang paling kuat kecuali mereka semua saling menghargai dan menghormati. Sehingga pada akhirnya semua pemeluk agama meyakini bahwa kebenaran ada dalam agama-agama lain.

Toleransi juga merupakan manifestasi dari pengamalan pancasila, terutama toleransi dalam beragama yang sesuai dengan sila pertama yakni Ketuhanan yang maha Esa. Terbersit pemaknaan atas sila tersebut bahwa semua agama menghargai manusia, maka dari itu semua umat beragama wajib untuk saling menghormati dan menghargai. Dalam kehidupan bernegara pemahaman akan makna pancasila harus dimiliki oleh setiap warga negara. Bertakwa kepada Tuhan berarti menjalankan semua perintah dan menhindari serta tidak melakukan apapun yang menjadi larangan Tuhan. Dalam konteks bernegara takwa kepada Tuhan berarti melaksanakan kewajiban manusia sebagai makhluk sosial, peduli terhadap sesama dalam rangka menhormati dan menghargai perbedaan. Sila pertama sebagai peletak dasar, titik tolak ideologi manusia Indonesia, bahwa manusia Indonesia menyatakan dirinya sebagai manusia yang beragama, menjunjung nilai-nilai moralitas dan norma-norma. Seorang manusia yang beragama, bermoral, maka ia akan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang terletak pada sila kedua. Singkatnya semua sila dalam pancasila akan saling bersangkut paut dan saling melengkapi satu sama lain yang inti dasarnya adalah penekanan pada ketakwaan kepada Tuhan, spiritualitas beragama. Dengan pemahaman seperti inilah, toleransi umat beragama di Indonesia akan semakin kuat. Secara dasar ideologi memang telah dibentuk dan sebagai semboyan Indonesia juga memiliki. Kedepan diharapkan toleransi antar umat beragama menjadi lebih erat, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa menjadi kuat.

azmi10
Dengan